Cuma Modal HP & Wifi Tetangga: Gawatnya, Rem Mobil Listrik Lo Bisa ‘Dicolong’ dari Dalam TikTok.
Gue nanya serius. Lo yang baru beli mobil listrik seharga milyaran, pernah kepikiran nggak? Bahwa aset mahal lo itu bisa jadi mainan anak-anak iseng di TikTok? Beneran. Yang lagi viral—dan bikin merinding—adalah car hacking 2025 dengan metode yang terlalu… mudah. Bayangin, ada yang bisa bikin rem mobil listrik tetangga nggak jalan, cuma pakai aplikasi gratisan dan WiFi. Bukan di film. Tapi di komplek perumahan lo.
Ini nggak cuma challenge receh. Ini wake-up call yang keras. Car hacking 2025 ini bukti kalau standar keamanan siber kita ketinggalan jauh. Kita sibuk bangun charger station, tapi lupa kunci digitalnya. Serem kan?
#1: Studi Kasus di BSD: “Cuma Iseng, Pak. Tapi Kok Bisa Ya?”
Awalnya cuma video TikTok pendek. Prank “nih gue matiin AC mobil lo dari jauh”. Eh, ternyata yang dimatiin bukan cuma AC. Beberapa menit setelah video itu viral, sebuah laporan ke polisi muncul dari perumahan di BSD. Pemilik mobil listrik merek tertentu mengaku, saat hendak parkir, rem mobilnya seperti “hilang” sesaat. Cuma 2 detik. Tapi cukup buat nabrak pagar.
Setelah diselidiki—dan ini yang parah—ternyata sumbernya dari jaringan WiFi rumahnya sendiri yang gampang diretas. Aplikasi gratisan yang dipakai si pembuat prank itu bisa scan perangkat IoT di jaringan yang sama. Mobil listrik si korban, yang terhubung otomatis ke WiFi rumah untuk update software, terbaca sebagai perangkat yang “rentan”.
Common Mistakes yang Bikin Lo Korban:
- Nyambungin Mobil ke WiFi Publik/Rumah Tanpa VPN. Koneksi ini jadi pintu masuk paling gampang. Hacker cuma butuh satu entry point di jaringan yang sama.
- Nggak Ganti Password Default IoT & Mobil. Masih pake password dari pabrik buat aplikasi kontrol mobil? Itu kayak ninggalin kunci kontak di ban.
- Mengabaikan Update Software. Produsen sering rilis patch keamanan. Nggak di-update, berarti lo biarkan celah itu tetap terbuka.
Rantai Kerentanan: Bukan Cuma Satu Merek, Tapi Sistem yang Bobrok
Nah, ini yang harus lo paham. Masalahnya bukan cuma di satu video TikTok atau satu merek mobil. Ini adalah kegagalan standar keamanan siber yang sistemik. Sebuah riset internal dari asosiasi keamanan siber otomotif di awal tahun ini aja bilang, lebih dari 60% model mobil listrik yang dijual di Indonesia punya setidaknya satu known vulnerability di sistem koneksinya (entah Bluetooth, WiFi, atau telematika).
Kerentanan itu ada di mana-mana:
- Di API (Application Programming Interface) yang menghubungkan aplikasi pabrikan ke mobil. Banyak yang nggak pakai autentikasi kuat.
- Di Sistem Over-the-Air (OTA) Update. Jalur update yang seharusnya aman, malah bisa disusupi.
- Di Charging Station Publik. Port komunikasi di charger bisa jadi backdoor buat masuk ke sistem mobil.
Intinya, industri terlalu fokus ke jarak tempuh dan akselerasi. Tapi soal keamanan digital? Kayak ngelempar kunci ke pasar.
#2: Tips Praktis Buat Lo yang Udah Punya/Pengen Beli: Lindungi Aset Lo!
Jangan panik dulu. Tapi langsung action. Ini hal konkret yang bisa lo lakukan mulai hari ini:
- Perketat Jaringan Rumah. Segera ganti password WiFi dengan kombinasi kuat (huruf besar-kecil, angka, simbol). Pisahkan jaringan khusus untuk mobil dan IoT di guest network terpisah.
- Matikan Koneksi Otomatis. Di pengaturan mobil, nonaktifkan fitur auto-connect ke WiFi atau Bluetooth. Nyambung manual aja kalo perlu.
- Gunakan Authenticator 2FA. Kalau aplikasi mobil lo support Two-Factor Authentication, WAJIB diaktifin. Ini lapisan keamanan ekstra yang vital.
- Rajin Cari Info. Ikuti forum pemilik mobil listrik lo. Biasanya, kalau ada celah keamanan baru, komunitas akan lebih cepat bahas daripada pabrikan sendiri.
Data Realistis: Di forum salah satu grup mobil listrik premium, polling menunjukkan 85% anggota tidak tahu cara mengaktifkan fitur keamanan tambahan di aplikasi mobil mereka. Mereka cuma pakai buat buka pintu dan cek baterai. Ini bahaya.
Ini Ancaman Nasional, Bukan Cuma Prank Receh
Kita harus berhenti lihat car hacking 2025 ini sebagai aksi iseng remaja. Bayangkan skenario ini: jika satu charger station di rest area tol bisa dibobol, lalu ratusan mobil yang nge-charge diretas bersamaan. Atau sistem rem kendaraan logistik listrik dimanipulasi. Ini bisa jadi ancaman keamanan fisik dan ekonomi.
Inilah kegagalan standar keamanan siber yang sebenarnya. Regulasi kita masih sibuk ngatur soal CKD dan insentif pajak. Tapi untuk sertifikasi keamanan siber wajib bagi setiap mobil listrik yang masuk? Masih belum jelas.
Produsen juga kadang tutup-tutupan. Takut reputasi rusak. Padahal, kolaborasi terbuka antara pemerintah, produsen, dan ethical hacker adalah satu-satunya cara buat bangun sistem yang benar-benar tahan banting.
Kesimpulan: Jangan Tunggu Mobil Lo Jadi Bahan TikTok
Car hacking 2025 itu alarm. Keras banget suaranya. Kalau lo pemilik mobil listrik, langkah-langkah praktis di atas bukan pilihan, tapi kewajiban. Kalau lo calon pembeli, jangan cuma tanya “berapa kilometer jaraknya?” Tanya juga, “Keamanan sibernya sudah sertifikasi apa? Apakah punya program bug bounty?”
Tekan produsen dan pemerintah untuk ambil ini serius. Karena di era mobil terbang dan drive-by-wire ini, peretasan bukan lagi cuma soal bocornya data pribadi. Tapi soal nyawa lo di jalan raya.
Percaya deh, gue nggak mau lihat video mobil lo yang lagi ngebut tiba-tiba remnya hilang, dan di kolom komentarnya cuma ada tagar #viral. Udah, ayo lebih aware. Mulai dari sekarang.
