Mobil Listrik ‘Second Life’: Apa yang Benar-Benar Terjadi Pada Batere Bekas Anda?
Anda membeli mobil listrik untuk menyelamatkan bumi. Itu niatnya bagus. Tapi pernah nggak kepikiran, setelah 8-10 tahun, saat kapasitas batere mobil Anda tinggal 70-80%, ke mana perginya “jantung” kendaraan itu? Dibuang? Didaur ulang? Atau malah jadi awal masalah baru?
Inilah paradoks yang jarang dibahas: Mobil Listrik ‘Second Life’ seringkali hanya istilah untuk bodi mobilnya. Sementara batere bekasnya masuk ke pasar gelap, dibongkar secara primitif, atau ditumpuk menunggu jadi “bom ekologis”. Ya, limbah elektronik beroda—e-waste on wheels.
Industri menjual narasi hijau yang sempurna. Tapi di balik itu, ada rantai nilai yang gelap dan beracun. Data dari Global Battery Waste Outlook 2025 memperkirakan, akan ada lebih dari 2 juta ton pack baterai mobil listrik bekas yang perlu “ditangani” secara global dalam 5 tahun ke depan. Kapasitas daur ulang resmi? Masih jauh di bawah itu.
Jadi, kemana larinya?
Investigasi Pasar Gelap & Upaya yang Masih Setengah Hati
- Kasus ‘Black Market Repurposing’ di Jawa Timur: Modul batere bekas mobil listrik dengan kapasitas turun didaur ulang secara ilegal untuk jadi bank daya tukang las pinggir jalan atau power supply untuk lampu LED di pasar malam. Prosesnya tanpa standar keamanan. Bahaya thermal runaway? Mereka mungkin nggak paham. Yang penting murah dan bisa dipakai.
- Gudang ‘Sleeping Giant’ di Kawasan Industri: Perusahaan daur ulang skala kecil mengaku punya teknologi. Realitanya? Mereka hanya membongkar pack, mengambil sel yang masih bagus, lalu menyimpan sisanya—yang mengandung lithium, kobalt, nikel—di gudang. Menunggu harga logam naik atau teknologi daur ulang yang lebih murah. Ini bom waktu.
- Program ‘Take Back’ yang Hanya Jadi Pencitraan: Beberapa dealer menawarkan program pengembalian batere. Tapi ketika ditelusuri, batere itu hanya dikirim ke pihak ketiga yang lisensinya abu-abu. Jalur auditnya putus. Hilang. Siapa yang bertanggung jawab kalau nanti mencemari tanah dan air? Pertanyaan yang tidak punya jawaban jelas.
Ini masalah besar. Tapi sebagai konsumen, Anda bukan tidak berdaya.
Common Mistakes Calon/Pemilik Mobil Listrik:
- Hanya Terpaku pada Harga dan Jarak Tempuh: Saat beli, nanya kapasitas batere. Tapi hampir nggak pernah nanya, “Kalau batere-nya sudah aus, program buyback atau daur ulangnya seperti apa?” Itu harus jadi pertanyaan utama.
- Menganggap ‘Second Life’ Batere adalah Masalah Produsen Semata: “Ah, nanti juga ada solusinya.” Mindset ini berbahaya. Tekanan dari konsumenlah yang memaksa industri berbenah.
- Terbuai Janji ‘Battery as a Service’ (BaaS): Skema sewa batere memang mengalihkan beban kepemilikan. Tapi tetap tanyakan, sebagai penyewa, Anda berhak tahu tidak tentang end-of-life plan batere yang Anda sewa itu? Jangan sampai skema hijau ini jadi kedok untuk mengaburkan tanggung jawab.
Tips Praktis Sebelum Membeli atau Saat Memiliki Mobil Listrik:
- Tanya Rantai Nilai Akhirnya: Saat ke dealer, minta penjelasan tertulis (bukan sekadar omongan) tentang komitmen produsen terhadap pengelolaan batere bekas. Apakah ada kerja sama dengan daur ulang bersertifikat? Dimana lokasinya? Bisa dikunjungi tidak?
- Cek Kesehatan Batere Secara Berkala & Dokumentasi: Seperti buku servis mesin mobil konvensional, buat catatan kesehatan batere. Ini akan menjadi “surat jalan” yang penting saat Anda ingin menjual mobil atau menyerahkan batere untuk didaur ulang. Batere dengan riwayat sehat lebih bernilai untuk second life aplikasi stasioner (seperti penyimpanan energi rumah).
- Dukung Kebijakan & Tekan Regulasi: Cari tahu, sudah ada aturan Extended Producer Responsibility (EPR) untuk batere kendaraan listrik di Indonesia belum? Kalau belum, suara Anda sebagai konsumen berdaya bisa mendorongnya. Ikuti komunitas mobil listrik yang serius membahas isu ini.
Intinya, Mobil Listrik ‘Second Life’ harusnya mencakup seluruh siklus hidupnya, terutama batere. Bukan cuma bodinya yang berpindah tangan. Transisi energi yang adil dan benar-benar berkelanjutan harus memikirkan titik akhirnya.
Kalau tidak, kita hanya memindahkan polusi dari knalpot ke tempat pembuangan sampah yang jauh lebih berbahaya dan tak terlihat. Anda siap menghadapi kenyataan itu?
