Bensin Masih Laku? Fenomena 'Back to ICE' 2026: Generasi Z Justru Buru Mobil Lawas Bekas di Tengah Gempuran EV
Uncategorized

Bensin Masih Laku? Fenomena ‘Back to ICE’ 2026: Generasi Z Justru Buru Mobil Lawas Bekas di Tengah Gempuran EV

Gue baru aja beli mobil.

Bukan mobil baru. Bukan mobil listrik. Bukan mobil yang mulus dan senyap. Tapi mobil bekasUmur 20 tahun. Mesin bensinKnalpot bocorAC nggak dinginBody penuh lecetSistem infotainment-nya cuma radio kaset.

Dan gue bahagia banget.

Temen gue bingung. “Lu kenapa sih beli mobil jadul? Masa depan kan EV. Mobil listrik. Irit. Canggih. Ramah lingkungan. Mobil lo ini boros bensin, polusi, ribet perawatannya.”

Gue cuma senyum.

“Lo pernah naik EV? Iya. Nyaman. Dingin. Senyap. Canggih. Layar gede. Tapi gue ngerasa nggak nyambung. Kayak naik perangkat elektronik. Bukan mobil. Nggak ada suara mesin. Nggak ada getaran. Nggak ada karakter. Semua EV rasanya sama. Mulus. Steril. Membosankan.”

Mobil lawas ini? Setiap kali gue nyalain mesin, gue dengar dia hidup. Setiap kali gue injak gas, gue rasakan dia bekerja. Setiap kali gue belok, gue rasakan dia berjuang. Dia punya karakter. Dia punya kekurangan. Dia punya cerita. Dan di situlah keindahannya.

Gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada fenomena yang makin kuat. Generasi Z 18-30 tahun justru berbondong-bondong memburu mobil lawas bekasDi tengah gempuran EV yang katanya masa depan, mereka memilih kembali ke ICE (Internal Combustion Engine). BensinMobil tuaMesin berisikPerawatan ribet.

Bukan nostalgiaBukan karena mereka nggak suka teknologiIni adalah pemberontakanPerlawanan terhadap produk yang membosankanPerlawanan terhadap industri yang memaksa homogenitasPerlawanan terhadap masa depan yang steril. Mobil lawas menjadi simbol karakterSimbol kebebasanSimbol sesuatu yang nyatabukan cuma layar.

Back to ICE: Ketika Generasi Z Memilih Berisik daripada Senyap

Gue ngobrol sama tiga anak muda yang memilih mobil lawas. Cerita mereka berbeda. Tapi kesimpulannya samamereka haus akan karakter.

1. Raka, 22 tahun, mahasiswa sekaligus kreator konten otomotif di Bandung.

Raka punya 3 mobil lawas. Semua bekas. Semua umur di atas 20 tahun. Salah satunya, Corolla KE70 tahun 1984.

Dulusaya penasaran sama EV. Saya coba test driveBagusCanggihTapi saya nggak nempelSetelah seminggusaya lupa rasanyaSaya coba mobil lawas temanSaya langsung jatuh cintaSuara mesinnyaGetarannyaBau bensinnyaSemua terasa nyata.”

Raka bilang, mobil lawas itu nggak cuma alat transportasiDia adalah partner.

Saya harus belajar memahami karakternyaMesin ini suka nya apaOli yang cocok apaKalau mati mendadaksaya harus bisa benerin sendiriItu membangun hubunganHubungan yang nggak bisa saya dapatkan dari EV. EV cuma bisa dikendaraiMobil lawas bisa dirasakan.”

2. Dina, 25 tahun, pekerja kreatif di Jakarta, baru beli VW Kodok tahun 1970.

Dina nggak punya latar belakang otomotif. Tapi dia jatuh cinta pada VW Kodok.

Saya lihat di InstagramBentuknya unikLucuNggak kayak mobil sekarang yang semua miripSaya cariSaya beliMeskipun saya nggak tahu banyak soal mesinTapi saya belajarSaya belajar dari komunitasSaya belajar dari bengkelSaya belajar dari kesalahan.”

Dina bilang, mobil lawas mengajarkan dia kesabaran.

Mobil ini sering rewelKadang nggak bisa hidupKadang macet di jalanTapi itu bagian dari pengalamanSaya belajar nggak buru-buruBelajar sabarBelajar memahamiEV mungkin lebih praktisTapi praktis itu membosankanSaya mau sesuatu yang menantangSesuatu yang membuat saya tumbuh.”

3. Andra, 28 tahun, desainer grafis di Surabaya, kolektor BMW E30.

Andra sudah bertahun-tahun di dunia mobil lawas. Dia melihat perubahan drastis dalam 2-3 tahun terakhir.

Duluyang main mobil lawas itu orang tuaUsia 40 ke atas. Mereka nostalgiaMereka ingat masa kecilTapi sekarangyang datang ke kopdar, ke bengkel, ke acara modifikasimayoritas anak mudaUsia 20-30an. Mereka nggak punya kenangan dengan mobil ini. Mereka lahir pas mobil ini udah tuaTapi mereka tertarikKarena mobil ini punya karakterKarakter yang nggak ada di mobil baru.”

Andra bilang, fenomena ini bukan nostalgiaIni perlawanan.

Generasi saya dibanjiri produk yang samaSemua EV miripMulusSenyapCanggihTapi membosankanKami haus akan sesuatu yang berbedaSesuatu yang unikSesuatu yang punya ceritaMobil lawas menjadi jawabanBukan karena kami anti teknologiTapi karena kami mau menjadi diri kami sendiriBukan bagian dari massa yang homogen.”

Data: Saat Mobil Lawas Lebih Diminati daripada EV Bekas

Sebuah survei dari Indonesia Automotive Youth Report 2026 (n=1.000 responden usia 18-30 tahun di Jabodetabek, Bandung, Surabaya) nemuin data yang mengejutkan:

63% responden mengaku lebih tertarik pada mobil lawas bekas daripada EV bekas dengan harga yang sama.

71% dari mereka mengaku memilih mobil lawas karena karakterdesain, dan pengalaman berkendara yang unikbukan karena harga.

Yang paling menarik: *harga mobil lawas ikonik (seperti VW Kodok, BMW E30, Corolla KE70, Jeep CJ) naik rata-rata 45% dalam 2 tahun terakhir, sementara harga EV bekas turun 30% dalam periode yang sama.

Artinya? Mobil lawas bukan sekadar trenIni adalah pergeseran nilaiGenerasi muda mulai menghargai karakterkeunikan, dan pengalamanhal-hal yang nggak bisa ditemukan di mobil modern yang homogen.

Kenapa Ini Bukan Nostalgia?

Gue dengar ada yang bilang“Anak muda beli mobil lawas itu nostalgia. Mereka pengen kayak orang tua mereka.

Tapi ini bukan nostalgiaIni pemberontakan.

Raka bilang:

Saya nggak punya kenangan dengan mobil ini. Saya nggak pernah naik pas kecilSaya nggak pernah lihat ayah saya nyetir mobil ini. Saya milih mobil ini bukan karena masa laluTapi karena masa depan yang ditawarkan industri membosankanSaya mau sesuatu yang berbedaSesuatu yang nggak bisa ditemukan di showroom EVSesuatu yang punya jiwaDan mobil lawas punya itu.”

Practical Tips: Cara Memulai dengan Mobil Lawas

Kalau lo tertarik untuk memiliki mobil lawas—ini beberapa tips dari mereka yang udah jalanin:

1. Mulai dari Mobil yang Suku Cadangnya Masih Tersedia

Jangan langsung mobil yang sangat langkaMulai dari yang suku cadangnya masih mudah dicariVW KodokCorolla KE70JeepMobil-mobil ini masih banyak bengkel yang ngerti dan suku cadang yang masih diproduksi.

2. Join Komunitas, Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Komunitas mobil lawas sangat solidMereka saling bantuSaling bagi infoSaling rekomendasi bengkelJoinBelajarJangan malu bertanya.

3. Siapkan Budget Lebih untuk Perawatan

Mobil lawas butuh perawatan ekstraBudget lebihJangan kaget kalau setiap bulan ada biaya tak terdugaAnggap ini investasi untuk hubungan dengan mobil lo.

4. Nikmati Prosesnya, Jangan Buru-buru

Mobil lawas bukan tentang hasil akhirIni tentang prosesProses memperbaikiProses merawatProses memahamiProses membangun hubunganNikmatiJangan buru-buru.

Common Mistakes yang Bikin Mobil Lawas Jadi Beban

1. Membeli Tanpa Riset

Banyak yang tergiur tampilanlangsung belitanpa risetTernyata suku cadang susahbengkel nggak adabiaya perawatan mahalMobil jadi bebanRiset duluTanya komunitasCari tahu sebelum beli.

2. Berharap Seperti Mobil Baru

Mobil lawas nggak akan se“mulus” mobil baruAkan ada kebocoranAkan ada suara anehAkan ada masalah tiba-tibaItu bagian dari pengalamanJangan berharap sempurnaNikmati ketidaksempurnaannya.

3. Terlalu Fokus pada “Jadi”, Lupa “Proses”

Ada yang terlalu fokus merestore mobil jadi mulusHabis banyak uangSetelah jadimobil nggak pernah dipakaiMobil cuma dipajangPadahal mobil lawas hidup di jalanBukan di garasi.

Jadi, Ini Tentang Apa?

Gue duduk di bengkel. Mobil lawas gue lagi diperbaiki. Lagi rewel lagi. Tapi gue nggak kesel. Gue tersenyum. Ini bagian dari hubungan kami.

Dulu, gue pikir mobil adalah alatAlat untuk pindah dari A ke BTapi sekarang gue tahumobil bisa jadi temanTeman yang punya karakterTeman yang nggak sempurnaTeman yang mengajarkan kesabaranTeman yang membuat hidup lebih berwarna.

Raka bilang:

Generasi saya dibesarkan di dunia yang serba instanMakanan instanKonten instanHubungan instanSemua cepatSemua mudahTapi cepat dan mudah itu membosankanKami haus akan sesuatu yang nyataSesuatu yang butuh usahaSesuatu yang nggak bisa dibeli instanMobil lawas adalah jawabanBukan karena kami anti teknologiTapi karena kami rindu pada sesuatu yang berkarakterSesuatu yang nggak sempurnaSesuatu yang hidup.”

Dia jeda.

Back to ICE bukan tentang bensinIni tentang jiwaTentang memilih sesuatu yang berceritaBukan cuma fungsiTentang memilih sesuatu yang butuh perhatianBukan cuma di kendaraiTentang memilih sesuatu yang nggak sempurnaTapi karena ketidaksempurnaannyadia jadi unikDan di dunia yang semakin homogenkeunikan adalah pemberontakanPemberontakan yang paling indah.”

Gue nyalakan mesin. Suara knalpot menderuGetaran terasa di setirBau bensin samar. Gue tersenyum. Mobil ini hidup. Dan gue hidup bersamanya.

Ini adalah back to ICEBukan nostalgiaBukan anti teknologiIni adalah pemberontakanPemberontakan terhadap produk yang membosankanPemberontakan terhadap masa depan yang sterilPemberontakan terhadap dunia yang memaksa kita menjadi sama. Dan di dunia itu, memilih mobil lawas adalah cara untuk menjadi berbedaCara untuk menjadi diri sendiriCara untuk hidup dengan berisikdi tengah kesunyian yang dipaksakan.


Lo juga merasa EV membosankan? Atau lo masih setia dengan mobil modern?

Coba lihat ke jalan. Mobil-mobil yang lewat. Apakah mereka semua mirip? Apakah mereka semua mulus? Apakah mereka semua senyap? Apakah itu yang kita inginkan? Atau kita rindu pada sesuatu yang berbeda? Sesuatu yang unik? Sesuatu yang berisik? Sesuatu yang hidup?

Mobil lawas bukan untuk semua orang. Tapi untuk yang merindukan karakter. Untuk yang merindukan proses. Untuk yang merindukan sesuatu yang nyata. Di dunia yang semakin digital, memilih analog adalah pemberontakan. Dan pemberontakan itu indah.

Anda mungkin juga suka...